Selamat Jalan Sang Legenda

EQUITYWORLD FUTURES – Kalaulah ada satu pertarungan dr Muhammad Ali yg bisa dijadikan miniatur kisah hidupnya, maka pertarungan melawan George Foreman di Kinshasa, Zaire tahun 1974 layak masuk nominasi. Sebuah uji kekuatan fisik, nyali, keyakinan, & kecerdasan mengurai situasi.Anda tahu, tinju bagi Ali bukan sekadar persoalan adu kekuatan fisik. Bukan berarti Ali lemah sebagai petinju. Di masa puncaknya Ali memiliki segalanya. Kelincahan tanpa tanding. Jab setajam sembilu. Kombinasi pukulan beruntun bak mitraliur. Koordinasi mata, tangan, & kaki layaknya pebalet. Bakat tinju berlebih.Tinju bagi Ali adalah juga persoalan adu keyakinan. Bahkan ketika sekian macam bukti berkata sebaliknya.

Foreman yg kala itu baru berusia 25 thn sedang di puncak kekuatannya. Tinggi besar dgn pukulan yg mengerikan. Dari 40 lawan yg dihadapi, 37 ambruk KO. Sementara Ali sudah berusia 32 thn. Dianggap, & memang demikian kenyataannya, telah lewat masa puncaknya.Hampir tidak ada di kalangan dunia tinju menjagokan Ali. Bahkan timnya sendiri diam-diam khawatir. Sedemikian tidak seimbangnya di atas kertas, beberapa kalangan malah mengkhawatirkan pertarungan akan berujung pada kematian.Ketika dlm sebuah latihan Foreman dgn kekuatan pukulannya membuat sandbag melesak kedalam, pukulan yg sama yg membuat Joe Frazier (yg di pertarungan sebelumnya mengalahkan Ali)  scr brutal ambruk berulang-ulang & mabuk pukulan, Ali hanya menertawakan.

“Anda tidak bisa memukul apa yg tidak anda lihat,” kata Ali sambil menari di ring latihan & memamerkan Ali’s shuffle yg terkenal itu.

Satu dua bln latihan menjelang pertandingan, Ali mengajak bicara siapa saja yg mau mendengarkan akan apa saja yg akan ia lakukan di atas ring tuk mengatasi Foreman.Kalau ia mendengar Foreman menunjukkan bukti kehebatan di tempat latihan, setiap kali pula Ali mementahkanya. Meski hanya dlm kata-kata & di benaknya sendiri. Lebih dari sekadar mencoba meyakinkan publik, ia sebenarnya sedang meyakinkan dirinya sendiri.Bukan hanya smp di situ. Di dalam ring Ali juga harus membohongi lawan, meyakinkan lawan bahwa yg dihadapi lebih superior.

Adalah bohong kalau hujan pukulan dari Foreman di sekujur tubuhnya di tengah malam di Zaire itu tidak membuatnya sakit dan ingin berhenti. “Rasa sakit dr pukulannya ke kepala terasa hingga ke ujung jempolku,’’ kata Ali beberapa thn kemudian. Di malam itu, Ali memang malah menyediakan diri tuk menjadi sandbag, berlawanan dengan ucapannya sebelum pertarungan bahwa ia akan menari, hilang dr pandangan, & menghujani Foreman dgn jab yg menyengat.

“Kau memukul spt perempuan George” bisik Ali berulang-ulang di telinga Foreman sambil sesekali menciptakan taktik yg belakangan disebut rope-a-dope (bersandar di ring seolah terjebak & membiarkan diri dihujani pukulan hingga lawan lemas sendiri). Sebuah taktik (penuh kebohongan) yg sangat berisiko.

“Hny begitu saja pukulanmu George” kembali Ali mengejek menanam keraguan. Foreman menggeram. “Aku memukul dgn seluruh kekuatan yg ada padaku. Paling keras. Tetapi ia masih mengejekku” kata Foreman di kemudian hari mengenang pertarungan itu.

Segala macam model pukulan dilepas oleh Foreman. “Pukul lebih keras George,” kata Ali dr balik kepalan sarung tinju yg melindungi muka & kepalanya. Ali merunduk, mengayun ke kiri & ke kanan. Membuat pukulan Foreman menerpa angin.

Saat pukulan Foreman tak lg bisa dihindari, Ali seperti berubah menjadi ahli fisika yg mengerti hukum pembagian energi. Ia berayun-ayun ke belakang menjadi satu dgn tali ring tinju. Seperti kokoh pohon yg berayun-ayun diterpa badai. Beban pukulan yg mendarat ke sekujur tubuhnya ia tanggung bersama ring tinju tempat ia bersandar.Akhirnya Foreman benar ragu dgn kekuatan pukulannya, teryakinkan dengan superioritas lawan, lemas kehabisan tenaga, & lama kelamaan sarung tinjunya seperti bertemu dengan awan.

Kalaupun Ali ragu akan bisa mengatasi lawan, ia selalu bisa menyerap energi dari sekitar utk membubungkan keyakinannya. Setelah ronde pertama, setelah merasakan betapa kerasnya pukulan Foreman, sebelum ronde kedua dimulai, Ali berdiri, matanya memandang jauh seperti merenung, mulutnya komat-kamit layaknya berdoa. Ia seperti mencari jalan keluar dari situasi yang rumit.

Tiba-tiba ia berbalik & bak konduktor okestra tangannya bergerak memimpin penonton untuk beteriak bersama-sama “Ali bomaye, Ali bomaye (Ali bunuh dia). Ia menjadi teguh” kata novelis, wartawan, & penggemar tinju Norman Mailer yg kemudian menuangkan pengalamannya meliput pertarungan itu dlm novel tinju legendaris The Fight.

Hidup memang penuh kontradiksi. Susah untuk selalu lempang. Selamat jalan Muhammad Ali. Lempanglah jalanmu kini.(Prz)