Problematika Penururan tarif interkoneksi All Operator

PT Equityworld Futures – Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (Dewan Perwakilan Rakyat) Republik Indonesia Bobby Adhityo Rizaldi menyebut

ide penurunan tarif interkoneksi dapat memukul nilai saham perusahaan operator telekomunikasi.

Sehingga dari itu, beliau meminta pemerintah mengkaji ide ini dengan cara seksama bersama mengedepankan rasa keadilan.

“Semuanya perusahaan publik, regulasi ini bakal menciptakan satu pihak untung & yang lain rugi, ujungnya saham publik bakal turun.

Ini yg mesti dipertimbangkan kembali oleh pemerintah,” kata Bobby di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (29/8).

Dalam Rapat Dengar Pernyataan Umum (RDPU) Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat dgn semua operator telekomunikasi di Indonesia, Direktur Penting Telkomsel Ririek Adriansyah menyampaikan, penetapan tarif baru ini, menyalahi PP 52/2000 sebab dianggap belum disetujui dgn oleh operator. Biarpun dipercaya, penurunan tarif ini memberikan budget komunikasi murah buat warga.

“Di satu segi setuju biar para operator mampu memberikan harga paling baik bagi user, penduduk. Namun di sudut lain, salah satu pihak operator merasa dirugikan & dapat mempengaruhi kinerjanya,” ujarnya.

 

PT Equityworld Futures:  Problematika Penururan tarif interkoneksi All Operator

 

Pada Awal Mulanya, Kementerian Komunikasi & Informatika berencana memberlakukan tarif interkoneksi segede Rupiah 204, atau turun 26 prosen dari diawal mulanya. Menurut gagasan, kebijakan ini mulai sejak berlaku kepada 1 September 2016 & sudah diinformasikan dalam Surat Edaran Kominfo No.115/M.Kominfo/PI.0204.08/2016.

Dirut Telkom Alex Sinaga bersama tegas menolak & keberatan atas Surat Edaran (SE) Kementerian Komunikasi kepada 2 Agustus 2016 mengenai penurunan budget interkoneksi dari Rupiah 250 jadi Rupiah 204. Penolakan & keberatan itu telah di sampaikan dengan cara terdaftar oleh Telkom Grup termasuk juga Telkomsel terhadap kementerian. Tetapi sampai sekarang belum mendapat tanggapan dari kementerian.

“Biaya interkoneksi baru itu (Rupiah 204), terang merugikan Telkom, mengingat cost recovery kami, menurut rumus konsultan, merupakan Rupiah 285. Dikarenakan kami membangun jaringan hingga ke pelosok Tanah Air, sedangkan operator lain membangun hanya di kota saja. Mengapa diperlakukan sama,” papar Alex Sinaga.

Apabila Telkom Kelompok keberatan & menolak, terhadap sudut berlainan, empat operator yang lain, merupakan XL Axiata, Indosat Ooredoo, Smartfren, Hutchison Tri Indonesia berargumen penurunan budget interkoneksi segede 26 prosen atau setara Rupiah 46 itu masihlah terlampaui mungil. Keempat operator itu berharap penurunan budget interkoneksi lebih gede lagi. Lantaran cost recovery mereka teramat rendah, adalah Indosat cuma Rupiah 86, XL Rupiah 65, Smartfren Rupiah 100, & Tri Rupiah 120.

Alexander Rusli, Dirut Indosat Ooredoo, menyebutkan penurunan tarif interkoneksi ialah buat berikan peluang terhadap operator tidak cuma Telkom Kelompok buat berkembang.

“Kalau tarif interkoneksi turun, kami dapat memberikan pelayanan lain yg lebih menarik buat pelanggan. Interkoneksi tetap jadi barrier, maka harga murah pada pelanggan terhadap daerah-daerah tertentu bersifat terbatas,” tutur Alex.

news by PT Equityworld Futures