Pengaruh Kebijakan Amnesty Terhadap Program Sejuta Rumah Jokowi

PT Equityworld Futures, Surabaya -Presiden Jokowi (Joko Widodo) mengeluarkan kebijakan pembangunan sejuta hunian utk Warga Berpenghasilan Rendah (MBR).

Tapi Sayang, ada banyak ganjalan dihadapi oleh pengembang, seperti kurangnya dukungan dari perbankan pelaksana KPR & susahnya pasokan falsafah listrik.

“Program sejuta hunian murah dari Pak Presiden Joko Widodo itu teramat keren sekali. Artinya, dgn acara tersebut,

kita miliki semangat yg tinggi kembali,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan

dan Pemukiman Seluruhnya Indonesia (Apersi) Eddy Ganefo di sela menghadiri program Preparatory Committee (PrepCom) 3 for Habitat III di Surabaya,

 

PT Equityworld Futures: Presiden Jokowi (Joko Widodo) mengeluarkan kebijakan pembangunan sejuta hunian utk Warga Berpenghasilan Rendah (MBR)

 

Disayangkan, ada sekian banyak hambatan yg dihadapi oleh pengembang pembangunan hunian murah buat MBR seperti kurangnya dukungan dari perbankan pelaksana KPR.

“Kendalanya waktu ini seperti lambatnya perbankan dalam jalankan akad KPR.

Menjadi tidak sedikit hunian yg telah menjadi, telah ada konsumennya, namun dalam akad KPR-nya tetap amat sangat lambat,” katanya.

“Kita menginginkan persoalan ini cepat dievaluasi oleh perbankan pelaksana biar lebih serentak lagi (merealisasikan KPR). Serta butuh dievaluasi oleh kementerian,” tuturnya.

diluar itu, pun kurang dukungan pasokan listrik dari PLN, maka perbankan pun malas menyetujui KPR.

“Perbankan tak ingin menerima KPR, lantaran belum tersedianya ajaran listrik.

Semestinya ada sinergi dari bermacam macam pihak buat mensupport acara sejuta hunian,” menurutnya.

Terkait masalah perizinan, Eddy menilai dgn dikeluarkannya paket ekonomi yg ke-12 dari Presiden Joko Widodo, di harapkan telah tak jadi hambatan.

“Tapi kita menunggu peraturan teknisnya, biar kebijakan tersebut bakal dilaksanakan,” ujarnya.

Sedangkan pengadaan lahan, kata Eddy, tetap dapat dimaklumi. Beliau mengakui, utk mencari lahan utk hunian murah di tengah kota benar-benar susah,

maka dipilihlah ruangan di kawasan pinggiran.

“Kalau ingin ambil hunian murah di dalam kota itu nggak bisa jadi, lantaran tak cocok dgn harga lahannya,” terangnya.

“Meskipun di daerah pinggiran tak apa-apa, yg mutlak pemerintah daerah setempat menyiapkan media jalannya, infrastruktur, ataupun angkutan biasanya,” katanya.

Realisasi penjualan hunian utk MBR yg dibangun pengembang dari Apersi kepada thn dulu mencapai 80.000 satuan.

Sedangkan sampai triwulan II thn ini telah mencapai 40.000-50.000 satuan hunian murah yg telah terjual.

“Tahun ini kita harapkan mampu terjual 100.000 satuan atau minimal 80.000 satuan,” tuturnya.

“Kita optimistis mampu mencapai 100.000 satuan. Terlebih bersama kebijakan tax amnesty,

dana repatriasi sanggup diinvestasikan di properti atau mengembangkan perumahan, lantaran inilah saatnya membeli.

dan aku percaya dalam 6 bln ke depan, properti ini bakal bangkit & booming kembali,” tandasnya.

news by PT Equityworld Futures