Gempa 5,5 SR Guncang Tasik Jawa Barat

PT Equityworld Futures, Jakarta – Wilayah Tasik dini hri tadi diguncang gempa 5,5 SR. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, Dan Geofisika, gempa yg berjalan di nyaris semua wilayah Jawa sektor selatan itu yaitu type gempa bumi langka.

“Berdasarkan hasil analisis peta tingkat guncangan (shake map) Badan Meteorologi, Klimatologi, Dan Geofisika,

efek gempabumi ini memunculkan guncangan kepada I Skala Intensitas Gempabumi Badan Meteorologi, Klimatologi,

Dan Geofisika (SIG-BMKG) atau II skala intensitas Modified Mercally Intensity (MMI) di nyaris seluruhnya wilayah Jawa bidang selatan dari Malingping,” ungkap Kepala Sektor Mitigasi Gempa Bumi & Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi,

Dan Geofisika, Daryono dalam keterangannya, Jumat (15/7/2016).

 

PT Equityworld Futures: Gempa Tektonik Skala 5,4 SR Mengguncang Tasik

Gempa tektonik dgn kebolehan M=5,1 itu berlangsung pada jam 01.28 WIB & pusat gempa terletak kepada koordinat 10.60 LS & 107.95 BT.

Tepatnya di Samudera Hindia terhadap jarak lebih kurang 330 kilometer arah selatan Kab Tasik, jabar, atau kepada jarak 159 kilo meter arah timur Pulau Christmas bersama kedalaman hiposenter 10 kilo meter.

“Meskipun resiko gempa bumi tak signifikan, namun sejarah gempa bumi ini ditinjau dari zona seismogeniknya termasuk juga gempa bumi langka & ialah tipe gempa bumi dangkal diluar zona subduksi (outer rise), maka gempa bumi ini menarik bagi para ahli kebumian,” terang Daryono.

Menurut Daryono, gempa ini tertulis bersama baik oleh peralatan Badan Meteorologi,

Klimatologi, Dan Geofisika & sekian banyak orang dilaporkan merasakan guncangan gempa.

Adapun wilayah selatan Jawa yg terkena efek dari gempa seperti wilayah Pangandaran, Cilacap, Kebumen, Cilacap, Yogyakarta, Pacitan, sampai Malang.

“Jika kita memperhatikan letak episenternya, kelihatan bahwa pusat gempa bumi ini berasosiasi dgn dinamika tektonik di zona outer rise selatan Jawa

yg mengalami tarikan Lempeng Indo-Australia di luar zona subduksi. Mengingat gaya yg bekerja berupa tarikan lempeng,

sehingga relevan seandainya prosedur sumber gempa bumi yg berlangsung yaitu penyesaran turun (normal fault),” lanjutnya.

Gempa bumi semacam ini dinamakan Daryono sempat berjalan di selatan Jawa terhadap 11 September 1921 dgn kemampuan M=7,5. Laporan Visser (1922) menunjukkan bahwa spektrum guncangan gempa bumi disaat itu mencapai jarak sejauh 1.500 km.

Guncangan gempa saat itu utk bidang barat dirasakan sampai Krui & Lampung, sementara itu di wilayah timur, gempa dirasakan sampai Taliwang, Sumbawa.

“Di wilayah antara Cilacap & Blitar dilaporkan tidak sedikit bangunan tembok mengalami retak-retak & roboh. Menurut Soloviev & Go (1984), gempa bumi outer rise Jawa 1921 memicu terjadinya tsunami mungil yg teramati di Parangtritis sampai Cilacap,” ujar Daryono.

Beruntung gempa Tasik dini hri tadi tak berpotensi tsunami walaupun berpusat di laut dgn prosedur sesar turun.

Gempa tak memunculkan tsunami dikarenakan menurut Daryono, kekuatannya tak mensupport adanya perubahan basic laut yg signifikan utk memicu terjadinya tsunami.

“Dari hasil monitoring Badan Meteorologi, Klimatologi, Dan Geofisika selagi satu jam paska-gempa bumi, belum berjalan gempa bumi susulan.

Utk itu penduduk pesisir selatan Pulau Jawa diimbau supaya konsisten slow mengingat gempa bumi yg berlangsung tak berpotensi tsunami,” kata beliau.

Kepada 19 Agustus 1977, gempa bumi M=8,3 di zona outer rise Samudera Hindia selatan Sumbawa diterangkan Daryono memicu terjadinya tsunami setinggi 5-8 meter & menerjang Pantai Lunyuk, Sumbawa. Tsunami itu menyebabkan lebih dari 198 orang tewas.

“Zona outer rise benar-benar zona gempa yg terabaikan, lantaran jarangnya gempa bumi berlangsung di daerah ini,” tutup Daryono.

news by PT Equityworld Futures