Di Tengah Isu Naiknya Harga Rokok Gudang Garam Raup Laba Bersih 2.8 Triliun

PT Equityworld Futures, Jakarta -Sepanjang semester I-2016 (Januari-Juni) PT Gudang Garam Tbk (GGRM) membukukan laba bersih Rupiah 2,8 triliun. Naik dari musim yg sama thn pada awal mulanya Rupiah 2,4 triliun.

Dalam laporan keuangannya ke Bursa Dampak Indonesia (BEI), Kamis (25/8/2016), kenaikan laba bersih ini didorong oleh meningkatnya penjualan & pendapatan bisnis.

Kepada masa tersebut, penjualan & pendapatan business GGRM mencapai Rupiah 36,96 triliun. Naik dari masa yg sama th diawal mulanya Rupiah 33,226 triliun.

Beban pokok penjualan, beban penjualan, juga rugi kurs perusahaan rokok ini meningkat sepanjang semester I-2016.

Biarpun begitu, perseroan mendapatkan pendapatan yang lain yg nilainya tercapat Rupiah 130,12 miliar. Naik dari masa yg sama th diawal mulanya Rupiah 36 miliar.

Dari rumus tadi, jumlah laba sebelum pajak tertulis Rupiah 3,8 triliun, naik dari musim yg sama thn pada awal mulanya Rupiah 3,21 triliun.

Keseluruhan bekal Gudang Garam sampai semester I-2016 tertulis Rupiah 63,52 triliun, naik tidak tebal dari akhir 2015 yg sejumlah Rupiah 63,5 triliun.

Gudang Garam tertulis menaruh kas & setara kas Rupiah 1,5 triliun. Menurun dari jumlah di akhir 2015 yg mencapai Rupiah 2,725 triliun.

 

PT Equityworld Futures: Penerimaan Cukai

 

Sementara Direktor Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (DJBC Kemenkeu) mencatat setoran cukai ke kas negara sepanjang Juli 2016 hanya mencapai Rp10,01 triliun. Realisasi ini anjlok 35,13 persen dibandingkan bulan sebelumnya, Rp15,43 triliun.

Direktur Penerimaan dan Perencanaan Strategis DJBC Sugeng Apriyanto mengungkapkan, turunnya realisasi cukai karena Juli merupakan bulan ramadan dan ada perayaan lebaran sehingga konsumsi rokok menurun. Produsen rokok juga telah memperbanyak stok rokok lebih awal pada Mei dan Juni.

“Cukai turun itu kan karena puasa dan lebaran. Karena ada puasa dan lebaran sehingga tingkat konsumsi (rokok) menurun,” tutur Sugeng.

Tercatat, setoran cukai hasil tembakau (CHT) yang menyumbang penerimaan cukai terbesar bulan lalu mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, dari Rp15,04 triliun menjadi Rp9,7 triliun.

Selain itu, lanjut Sugeng turunnya setoran cukai juga disebabkan oleh masuknya tahun ajaran baru.

“Ada fluktuasi tahunan seperti itu. Pokoknya kalau masuk tahun ajaran baru, setoran cukai cenderung lebih rendah,”ujarnya.

Secara kumulatif, setoran cukai Januari-Juli baru mencapai Rp54 triliun atau sekitar 36,46 persen persen dari target Rp148,09 triliun. Sebanyak Rp51,2triliun diantaranya berasal dari CHT.

news by PT Equityworld Futures