Dampak Usulan Harga Rokok 50 Ribu Bagi Petani Tembakau

PT Equityworld Futures, Jakarta – Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) menolak usulan kenaikan harga rokok jadi Rupiah 50 ribu per bungkus.

Kenaikan harga ini dinilai bukan cuma bakal mematikan industri rokok, namun serta para petani tembakau.

Ketua Umum APTI Soeseno ‎menyampaikan, pihaknya menentang dengan cara tegas usulan kenaikan harga

lewat skema kenaikan tarif cukai ini yg dinilai cuma buat menekan angka perokok aktif di Indonesia.

Menurut beliau, kenaikan cukai yg terlampaui tinggi bakal menurunkan volume produksi rokok.

Faktor ini menyebabkan mata pencaharian seputar 6 juta orang yg terlibat dalam industri hasil tembakau (IHT) terganggu.

“Kenaikan cukai se gede 11,5 % kepada th ini sudah menyebabkan volume IHT menurun segede 4,8 prosen terhadap semester 1 th 2016,

” tutur ia dalam keterangan tercatat di Jakarta, Senin (22/8/2016).

 

PT Equityworld Futures: Dampak Usulan Harga Rokok 50 Ribu Bagi Petani Tembakau

 

Wacana kenaikan harga ini serta dikhawatirkan dapat menyebabkan perdagangan rokok tidak legal merajalela.

Hasil studi Kampus Gadjah Mada & Direktorat Bea & Cukai kepada 2014 mencatat perdagangan rokok tanpa izin mencapai 11,7 %

dan merugikan negeri sampai Rupiah 9 triliun.

“Kenaikan cukai eksesif dapat dibarengi bersama menurunnya kapabilitas daya beli penduduk,

sehingga pembeli bakal menyiasati dgn mencari rokok yg lebih murah & atau malah melinting sendiri.

Telah barang pasti target pendapatan cukai tak mencapai target, diperburuk lagi kenaikan cukai yg berlebihan bakal menyuburkan

pertumbuhan rokok tanpa izin,” terang dirinya.

Kenaikan harga yg tinggi, lanjut Soeseno, serta bakal berakibat terhadap penurunan daya serap bahan baku tembakau & cengkeh.

Permintaan tembakau oleh pabrik kepada musim panen th ini pula turun 15 % dibanding thn dulu.

Padahal, kata ia, tembakau yakni komoditas perkebunan yg menguntungkan ketimbang tanaman yang lain.

Berdasarkan studi Kampus Airlangga terhadap 2013, rata rata pendapatan yg di terima oleh petani tembakau per satu hektar lahan yaitu se gede Rupiah 20 juta.

Angka ini lebih tinggi ketimbang petani padi, jagung, & bawang merah, yg biasanya memperoleh Rupiah 8 juta, Rupiah 3 juta, & Rupiah 2,3 juta.

diluar itu, dalam 5 th seputar 1.200 pabrik rokok tutup & berlangsung pemutusan kerjasama (PHK) yg mencapai 102.500 pekerja.

Penutupan pabrik & PHK pekerja berdampak negatif.

 

PT Equityworld Futures: Dampak Usulan Harga Rokok 50 Ribu Bagi Petani Tembakau

 

“Jika rokok tanpa izin semakin merajalela, sehingga seluruh pihak bakal dirugikan, merupakan pabrikan rokok legal,

para pekerjanya, pula para petani tembakau & cengkeh. Pemerintah pun bakal dirugikan dikarenakan rokok tanpa izin tak membayar cukai,” ungkap beliau.

Soeseno menyampaikan, terhadap 2015, IHT tertulis membayarkan cukai, pajak daerah, & PPN

product tembakau segede Rupiah 173,9 triliun. Angka ini setara 16,5 prosen dari keseluruhan penerimaan pajak.

“Kami meminta pemerintah menciptakan kebijakan cukai yg rasional, berimbang, pun memperhitungkan seluruhnya factor,

termasuk juga kesehatan pula kelangsungan business IHT di Indonesia,” tandas dirinya.

news by PT Equityworld Futures