Beberapa Regulasi ESDM Yang Di Perbaharui Untuk Menarik Investor

PT Equityworld Futures, Jakarta -Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral waktu ini tengah membenahi regulasi-regulasi

supaya ikim investasi di industri hulu migas Indonesia menjadi lebih seksi. Berdasarkan penelitian Energi Dan Sumber Daya Mineral,

bagian hulu migas Indonesia kurang atraktif, telah termasuk juga amat sangat tak menarik kalau di bandingkan bersama negara-negara pembuat minyak lain di seluruhnya dunia.

Tidak Cuma merombak Peraturan Pemerintah Nomer 79 Thn 2010 (PP 79/2010) yg mengatur cost recovery & pajak di bidang hulu migas,

Energi Dan Sumber Daya Mineral pun menyiapkan aturan insentif husus buat aktivitas eksplorasi migas di laut dalam.

Ini dilakukan dikarenakan cadangan minyak terbukti Indonesia tinggal 3,6 miliar barel, sanggup habis dalam ketika lebih kurang 10 thn lagi.

Sebenarnya ada banyak cadangan minyak yg dipunyai Indonesia, namun lokasinya di laut dalam & tempat-tempat terpencil.

Tidak Dengan adanya insentif, eksplorasi cadangan-cadangan tersebut tak hemat buat dikembangkan.

Regulasi baru ini didesain utk menciptakan eksplorasi & produksi minyak di laut dalam jadi hemat.

Bersama penawaran keuntungan yg lumayan menggiurkan, diinginkan investor ingin mencari minyak di laut Indonesia.

 

PT Equityworld Futures: Beberapa Regulasi ESDM Yang Di Perbaharui Untuk Menarik Investor

 

Dirjen Migas Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral, IGN Wiratmaja Puja, mengungkapkan salah satu insentif yg ditawarkan utk pengeboran migas di laut merupakan bagi hasil (split) yg akbar.

Bagi hasil yg berlaku dalam kontrak bagi hasil (Profit Berbagi Contract/PSC) di Indonesia kini merupakan 85% hasil produksi migas utk negeri & 15% buat kontraktor (85 : 15). Sektor buat negeri dapat dikurangi kusus utk produksi migas di laut dalam, kontraktor mampu mendapat bagi hasil lebih dari 15%.

“Insentif laut dalam misalnya split, tidak serupa bersama split buat aktivitas produksi minyak di darat. Kita sekarang ini 85 : 15, sektor negeri mesti turun biar atraktif. Indonesia ini ibarat perawan menawan yg tak dirias,” papar Wirat, dalam diskusi di Gedung Migas, Jakarta, Jumat (9/9/2016).

Insentif buat pencarian & produksi migas di laut bukan cuma bagi hasil yg akbar saja. Durasi kontrak yg diberikan sanggup lebih dari 30 thn, barangkali hingga 50 th, lebih panjang dari periode berlaku kontrak migas di Indonesia kini.

Insentif laut dalam ini pasti akan mendongkrak keuntungan yg diperoleh kontraktor. Aturan yg berlaku di Indonesia dikala ini memang lah kurang menguntungkan kontraktor. ENI contohnya, perusahaan migas asal Italia itu cuma mendapatkan Internal Rate Return (IRR) se gede 5% di Arena Lapang Jangkrik, Selat Makassar.

Padahal, negara-negara lain umumnya menawari IRR umumnya 25% utk kontraktor migas, Indonesia dibawah itu. Menurut Wirat, ini gambaran betapa kurang menariknya bagian hulu migas Indonesia. “Contoh saja di laut dalam, di Jangkrik yg dikelola ENI, IRR hanya 5%. Itu amat sangat perlu insentif supaya lumayan hemat. Umumnya di dunia IRR 25%,” Wirat menjelaskan.

Aturan insentif laut dalam dapat dibuat dalam wujud Peraturan Presiden (Perpres) atau Peraturan Menteri (Permen). “Level aturannya Perpres atau Permen. Sedang kita godok,” tutup Wirat.

news by PT Equityworld Futures